rasanya makin samar.
boleh kamu tanya mauku apa.
aku sendiri juga tidak tahu,
sungguh.
kalau kamu bisa membaca hatiku,silahkan lakukan, tidak akan lagi ada rasa keberatan.
bilang padaku,apa yang hatiku fikirkan,
mengapa rasanya hambar?
dulu-dulu waktu masih ada kamu,
hatiku lebih aktif dari otakku.
terus bicara ribuan kata per detik,
sampai bosan kusuruh ia diam.
jembatan yang menghubungkan hati dan otakku telah diputuskan,
walaupun otak menjerit tidak mau di hibernasikan.
boleh kutanya sekarang mengapa?
sejak kamu jauh,hatiku jadi batu.
ada yang lebih baikpun ia tidak mau luluh,
mau kupukul,tapi takut hancur.
serba salah.
atau aku saja yang salah?
tidak disangka,otak juga menolak bekerja sama.
sejak kamu jauh sayang, dua duanya kehilangan lima indera.
atau enam termasuk kamu.
kasihani aku, sudah tidak punya hati,masih ditambah otakku menghilang.
tanyakan pada orang orang,dimana aku bisa mendapatkan keduanya?
rasanya masih samar.
sesamar peringatan yang hatiku berikan.
ia bilang, ia minta keadilan.
kubilang,minta saja pada kamu.
siapa suruh main tinggal begitu saja,
yang salah siapa, kenapa aku yang diboikot?
jangankan mereka, aku saja tidak tahu sekarang kamu mau bagaimana.
jauh-dekat tidak ada rasanya.
lebih baik aku di rumah menutup mata,daripada keluar lalu main main dengan perasaan lagi.
boleh jadi sekarang rasanya makin samar samar.
samar,
ditampar,
tetap hambar.
boleh kamu tanya mauku apa.
aku sendiri juga tidak tahu,
sungguh.
kalau kamu bisa membaca hatiku,silahkan lakukan, tidak akan lagi ada rasa keberatan.
bilang padaku,apa yang hatiku fikirkan,
mengapa rasanya hambar?
dulu-dulu waktu masih ada kamu,
hatiku lebih aktif dari otakku.
terus bicara ribuan kata per detik,
sampai bosan kusuruh ia diam.
jembatan yang menghubungkan hati dan otakku telah diputuskan,
walaupun otak menjerit tidak mau di hibernasikan.
boleh kutanya sekarang mengapa?
sejak kamu jauh,hatiku jadi batu.
ada yang lebih baikpun ia tidak mau luluh,
mau kupukul,tapi takut hancur.
serba salah.
atau aku saja yang salah?
tidak disangka,otak juga menolak bekerja sama.
sejak kamu jauh sayang, dua duanya kehilangan lima indera.
atau enam termasuk kamu.
kasihani aku, sudah tidak punya hati,masih ditambah otakku menghilang.
tanyakan pada orang orang,dimana aku bisa mendapatkan keduanya?
rasanya masih samar.
sesamar peringatan yang hatiku berikan.
ia bilang, ia minta keadilan.
kubilang,minta saja pada kamu.
siapa suruh main tinggal begitu saja,
yang salah siapa, kenapa aku yang diboikot?
jangankan mereka, aku saja tidak tahu sekarang kamu mau bagaimana.
jauh-dekat tidak ada rasanya.
lebih baik aku di rumah menutup mata,daripada keluar lalu main main dengan perasaan lagi.
boleh jadi sekarang rasanya makin samar samar.
samar,
ditampar,
tetap hambar.